Kamis, 06 Juni 2013

Putri

Ada cerita tentang seorang teman perempuan saya yang saya tertarik menulisnya di sini.

Saya mengenal dia ketika saya sekolah dasar dulu.
Ia memiliki nama Putri, Putri sangat menggemari mata pelajaran IPA
saya diam-diam suka menatap matanya ketika ia memerhatikan keterangan ibu guru yang sedang tidak memerhatikan kami, seperti mata langit yang tak pernah ingin mati sebelum menyentuh bumi.

Putri sering tidur larut malam dan bangun kesiangan, lalu kerap terlambat tiba di sekolah, betapa tidak disiplin
yang dilakukannya hanyalah menatap langit semalaman entah merindukan pada  si  apa?!
Putri sering menceritakan pada saya perihal cita-citanya untuk menjemput Ayahnya dilangit, Ibunya pernah menceritakan bahwa bintang-bintang adalah jelmaan orang-orang yang kita cintai namun telah pergi.

Dulu, pada malam ulang tahunnya yang ketiga, ia ditinggal pergi oleh Ayahnya, sampai sekarang, Ayahnya tak pernah mengirimi kabar atau surat yang bisa menggugurkan kerinduannya.

Lalu pada ulang tahun saya yang keenam, entah Tuhan memberi saya hadiah apa, di hati ini seperti ada nama Putri, Putri tidak bisa hadir pada acara perayaan ulang tahun saya.

Besoknya di sekolah, wajah ibu guru tampak sendu, lalu lirih berkata "Anak-anak, mari doakan teman kita yang telah pergi tadi melam untuk selamanya".

Selasa, 04 Juni 2013

grandmother, I miss you.

Menjelang tidur, aku selalu merindukan engkau yang diam-diam membuka pintu kamarku setiap malam, untuk memastikan apakah aku sudah lelap atau tidak.
Merindukan dongeng pengantar tidur yang menyenangkan, tentang seorang perempuan miskin yang selalu disiksa oleh Ibu tirinya, juga saudara tirinya, lalu pada suatu saat ia menjadi isteri raja.
Merindukan engkau mengenakanku selimut yang selalu saja kusingkap
ketika kuterbangun tengah malam dan melihat mulutmu sudah tidak ada di dekat telingaku.
Aku rindu ajakanmu yang selalu saja kutolak perihal memancing, dan mengecewakanmu,
tapi selalu pula aku yang menghabiskan seluruh hasil dari jerih usahamu mendapatkan ikan, aku rindu ikan-ikan itu.
Aku rindu bermain denganmu di halaman belakang berburu capung, dan melepaskannya kembali, "mereka juga punya keluarga" katamu sambil melepaskan banyak capung dari keranjang.

Aku merindukanmu, Nek, sungguh.

Jumat, 31 Mei 2013

Astronot

:Untuk kakak perempuan saya tercinta.

 "Nak, buatlah cita-cita setinggi langit", Ayah kerap mengatakannya dulu kalimat itu padaku.
Pagi hari setelah aku memimpikan cerita Ibu tentang seorang pelukis terkenal, yang berjanji tidak akan pernah lagi mau melukis setelah mengetahui lukisan salah satu muridnya jauh lebih bagus.
Dan siangnya, kau selalu saja terlambat pulang dari sekolah, sebab masih asik bercanda gurau dengan teman priamu yang sombong karena Ayahnya seorang polisi.
Kau pernah menggantikan Ibu dalam kebiasaannya membacakan sebuah cerita padaku sebelum aku tidur,
sebab malam itu, Ibu harus pergi menjenguk suami teman arisannya yang tertembak polisi karena diduga mencopet.
Aku masih ingat cerita yang kau bacakan malam itu menjelang tidurku, tentang anjing yang begitu dekat dengan majikannya, tapi suatu saat majikannya harus pergi ke luar kota karena panggilan bisnis, mau tidak mau ia harus meninggalkan anjingnya sendiri. anjing itu merasa sangat merindukan majikannya, katamu. saking rindunya, anjing itu terus menunggu berhari-hari di sebuah stasiun tempat majikannya pergi. hingga anjing itu mati di sana.
Lihat, daya ingatku masih kuat, aku masih ingat ceritamu, kak.
Kau tentu saja tahu bahwa usiaku waktu itu masih terlalu bocah, dan berhasil mengingat cerita itu sampai sekarang, sampai usiaku kini duapuluh tahun, berarti, selama enambelas tahun aku menghafal cerita tentang anjing itu.
Ah, pasti kau akan bilang bahwa itu semua tak sebanding dengan apa yang diceritakan oleh Ayah padamu semasamu masih kecil,
tentang seorang penyair kaya yang berhasil merahasiakan penyakitnya selama limapuluh tahun agar matinya terhormat.
tentang seorang pemikir yang mengajak istrinya bunuh diri bersama karena terlalu mencinta.
tentang seorang pelukis yang memakan waktu delapanbelas tahun untuk menyelesaikan lukisannya yang hanya sepanjang lengan tangan.
tentang samudra yang mentenggelamkan benua paling besar.

Kak, aku jadi ingat kembali kata-kata Ayah dulu "Nak, buatlah cita-cita setinggi langit".
Tapi Ibu melarangku menjadi astronot.




Sabtu, 20 April 2013

Rahasia pohon di rumahmu.

Waktu kecilku dulu, aku sering berlari menuju hutan, di sana kubisikkan berulang-ulang kali namamu pada pohon-pohon, mereka diam seperti memberitahuku bahwa aku sedang jatuh cinta.
tapi aku selalu meragukannya, sebab mana mungkin aku jatuh cinta kepada sesorang yang jauh lebih tua dari usiaku, pohon-pohon itu diam lagi, mereka seperti ingin memberitahuku bahwa mereka juga jatuh cinta pada tubuh yang jauh lebih tua, jauh lebih tua dari usia mereka, tanah, mereka mencintai tanahnya.
dan mereka benar, aku yakin aku telah jatuh hati kepada kau, yang lebih tua dari usiaku, seperti pohon-pohon itu yang mencintai tanahnya yang jauh lebih tua dari mereka.

Pohon-pohon itu begitu mencintai tanah kelahirannya, sampai mati-pun, sampai kau mati, aku akan mencintaimu, tak peduli kau lebih muda atau tua dariku.

Dan kini, kau hanya bisa diam oleh rentamu, dan aku masih mencintaimu, sejak kau lanjut usia, kau-pun sering duduk di hadapan jendela rumahmu.
Maksud tulisan ini sederhana, hanya ingin kau tahu, bahwa  pohon-pohon yang dulu semasa kecilku sering kubisikkan namamu, kini telah menjadi beberapa perabot dan daun jendela rumahmu.

Jumat, 19 April 2013

Di sebuah pejam

Di sebuah pejam, aku saksikan sepasang mataku dan matamu, keduanya sama hanya saja matamu mengenalan kaca.

Aku ingat hari itu dan kau duduk di sebuah ruang entah kini ruang itu yang sering hadir di kepalaku, atau ingatanku yang menghadirinya
di sana aku pernah mengatakan bahwa aku ingin menjadi kaca jendela kamarmu, tetapi aku salah, jendela kamarmu tiap malam menjelang tidurmu sering kau katup, sering kau tutup. “Mengapa tidak kacamataku saja dan aku sering lupa melepaskan kacamataku saat aku tidur, jadi kau bebas menyentuh pipiku dan menatap mati mataku”.
Kau menunduk diam, dan aku kalah.