Jumat, 19 April 2013

Di sebuah pejam

Di sebuah pejam, aku saksikan sepasang mataku dan matamu, keduanya sama hanya saja matamu mengenalan kaca.

Aku ingat hari itu dan kau duduk di sebuah ruang entah kini ruang itu yang sering hadir di kepalaku, atau ingatanku yang menghadirinya
di sana aku pernah mengatakan bahwa aku ingin menjadi kaca jendela kamarmu, tetapi aku salah, jendela kamarmu tiap malam menjelang tidurmu sering kau katup, sering kau tutup. “Mengapa tidak kacamataku saja dan aku sering lupa melepaskan kacamataku saat aku tidur, jadi kau bebas menyentuh pipiku dan menatap mati mataku”.
Kau menunduk diam, dan aku kalah.

0 Pemikiran tentang entri ini:

Posting Komentar