Menjelang tidur, aku selalu merindukan engkau yang diam-diam membuka pintu kamarku setiap malam, untuk memastikan apakah aku sudah lelap atau tidak.
Merindukan dongeng pengantar tidur yang menyenangkan, tentang seorang perempuan miskin yang selalu disiksa oleh Ibu tirinya, juga saudara tirinya, lalu pada suatu saat ia menjadi isteri raja.
Merindukan engkau mengenakanku selimut yang selalu saja kusingkap
ketika kuterbangun tengah malam dan melihat mulutmu sudah tidak ada di dekat telingaku.
Aku rindu ajakanmu yang selalu saja kutolak perihal memancing, dan mengecewakanmu,
tapi selalu pula aku yang menghabiskan seluruh hasil dari jerih usahamu mendapatkan ikan, aku rindu ikan-ikan itu.
Aku rindu bermain denganmu di halaman belakang berburu capung, dan melepaskannya kembali, "mereka juga punya keluarga" katamu sambil melepaskan banyak capung dari keranjang.
Aku merindukanmu, Nek, sungguh.
0 Pemikiran tentang entri ini:
Posting Komentar