Minggu, 07 Oktober 2012

Puisi itu

Jauh sebelum tanggal yang ditetapkan di undangan pernikahanmu
aku terus mencoba membuat kado berupa sajak untukmu
sebab aku tak punya cukup uang untuk membelikanmu kado mewah
tapi nyatanya, aku tak mampu membuat sajak indah untuk kalian berdua
tapi aku terus berusaha, dan terus saja mencoba di setiap malam, namun tetap
jariku tak mau menari di atas kertas,
mataku semakin memerah dan selalu lembab oleh air mata
hingga tetesannya membasahi kertas dan tintanya menjadi berantakan
nyatanya, aku jua tak mampu, sedikitpun tak mampu
akhirnya aku meminta seorang teman untuk menuliskan sajak, tentang sepasang kekasih yang berbahagia
diapun mengangguk, aku cukup lega dia membantuku, tapi juga sambil menekan dada
Ah, Tahukah kau,,?
sajak itu sangat indah, indah sekali.


Tahukah kau,,?

oleh: Hizam el miad

aku masih ingat, hari itu kau datang bertamu ke rumahku,
kau datang dengan senyum yang sama,
senyum yang dulu kau kenakan saat kita masih bersama,
sebelum akhirnya kita berpisah,

Tanpa banyak bicara kau memberikan undangan pernikahanmu padaku,
kau memintaku menulis sebuah puisi,
puisi tentang sepasng kekasih yang bersatu meski tak saling mencintai,
dan kau memintaku membacakannya di hari pernikahanmu,

Tahukah kau?
berapa banyak tinta yang ku habiskan?
berapa kali pena patah?
berapa kali aku mengganti kertas karna basah air mataku?
berapa kali aku menulis puisi itu untukmu?

Tahukah kau?
puisi yang kubacakan di depanmu sambil tersenyum  waktu itu,
adalah puisi yang ku tulis dengan air mata.

0 Pemikiran tentang entri ini:

Posting Komentar